Tutug Oncom ku tinggal kenangan

Setiap ide yang terlintas dan belum bisa terealisasi , siap atau tidak suatu saat mungkin ide tersebut bisa direalisasikan oleh orang lain. Misal ide untuk membuka bisnis Tutug Oncom dengan konsepan ‘saung ala sunda’..
Sebelumnya saya mau mengupas dulu sedikit mengenai Tutug oncom khas Tasik ini. Tutug oncom atau yang sering akrab dipanggil T.O ini memang sangat merakyat. selain harganya yang relatif murah juga banyak diminati oleh masyrakat. Tutug oncom terbuat dari nasi yang dicampur dengan oncom goreng, kemudian ditambah tahu tempe, lalap, sambal dan cipe/mendoan. Harga standarnya adalah 3rb-5rb.
Saya fikir T.O di Tasikmalaya selama ini memiliki image tempat yang sempit dan sederhana (saung tenda kecil/roda) serta kesulitan tempat duduk karena biasanya hanya menggunakn kursi kayu panjang. Namun ketika waktu itu sedang marak-maraknya rumah makan dengan konsepan ‘saung ala sunda’, ide itu terlintas begitu saja. Dalam hati saya berkata, “kenapa gak coba warung TO dikemas dengan tempat dan sajian ala rumah makan sunda pada umumnya?karena notabene di Tasikmalaya pada waktu itu belum ada rumah makan T.O dengan konsepan seperti itu.”
Pernah waktu itu saya berfikir untuk membangun rumah makan tersebut di sekitar lokasi kampus tepatnya di jalan BKR. Mengingat di sepanjang jalan tersebut terdapat beberapa lahan kosong (sawah) dan bangunan yang bisa dikontrakkan.
Seminggu..sebulan..dan setahun berlalu…ide itu hanya ada di dalam fikiran saya. Benar-benar sebuah mimpi yang tidak bisa saya bangun. Keberanian untuk memulai itu awalnya ada. Tapi ada saja kendala dan bisikan-bisikan kecil yang meluluhlantakan keberanian itu. Yah dan hanya sedikit keberanian yang saya punya waktu itu (haha). Saya fikir meskipun saya masih mahasiswa semester 3, tapi saya memiliki modal semnagt yang tinggi untuk bisa mewujudkannya. Tapi semangat doank belum bisa memenuhi.
Pernah ide itu saya utarakan suatu hari kepada ayah dengan harapan beliau bisa mendukung dan membantu saya untuk mewujudkan mimpi itu. Alhasil beliau masih menunjukan sikap tidak percayanya tentang ide bisnis itu. Yah,,saya hanya pasrah.. karena memang beliau menginginkan saya untuk benar-benar mandiri seutuhnya tanpa bantuan sedikitpun dari orangtua. Nyali saya pun ciut. Saya masih belum mengerti dan siap dalam beberapa aspek. Hanya ide. Itu saja. Tapi untuk masalah sewa tempat/beli lahan, perekrutan tenaga kerja, koki, termasuk modal yang menjadi alasan utama yang membuat saya pasrah. Mau minjem uang ke bank, mau jamin pake apa? Terus kalaupun dapat pinjaman, nanti menghubungi pemilik lahan kosong tersebut kemana? Terus, blab la bla..Banyak hal-hal yang masih belum saya mengerti. Ntahlah… sering saya baca buku tentang wirausaha dan di kampus pun pada waktu itu kebetulan sedang memeplajari mata kuliah kewirausahaan. Dan lagi lagi hal itu sama sekali tidak mendukung saya dalam prakteknya. Hanya sebuah teori dan saya kesulitan dalam merealisasikannya. Mentor tak ada, dan tak ada satupun yang bisa saya mintai pertolongan.. benar-benar seorang diri. Bagaikan seekor ikan kecil yang mengarungi samudra seorang diri.(bener gak perumpamaanya..hehe).
Satu tahun berlalu dan ketika semester 4 akhir (kalau tidak salah) tiba-tiba saya dikejutkan oleh pendirian rumah makan T.O persis di jalan dan tempat yang sama yang dulu pernah saya fikirkan yaitu Rumah makan T.O dengan konsepan ‘saung ala sunda’. Saya langsung berkunjung , duduk dan menikmati T.O di tempat tersebut sembari melongo,,ketawa ketiwi,,senyum tak percaya, sedih, dan hampir gila (haha sedikit hiperbola).. gimana nggak? Coba bayangkan,,itu ideku setahun yang lalu.. dan ternyata sekarang benar-benar terealisasi..benar-benar mimpi yang terwujud tapi sayangnya orang lain yang berhasil merealisasikannya. Hmm..
Saya langsung bilang pada orang tua tentang apa yang saya temui hari itu. Tentang konsepan yang pernah saya utarakan dulu ke mereka. Saya fikir reaksinya akan persis seperti apa yang saya harapkan tapi ternyata sedikit kecewa mengingat mereka tetap acuh tak acuh. T.T
Selang beberapa minggu dan bulan rumah makan T.O di Tasik dengan konsepan itu mulai bermekaran dan berkembang dengan sangat cepat. Hampir di sepanjang jalan tersebut dibangun beberapa rumah makan T.O yang bisa dikatakan cukup berdekatan. Mereka berani bersaing dengan kualitas rasa, harga, service, dan kenyamanan tempat.
Yah, sekrang saya benar-benar menjadi seorang penonton yang hanya bisa melihat kesuksesan Mr. Rahmat, salah satu pebisnis rumah makan T.O tersebut dengan harapan suatu saat saya bisa seperti beliau. Menjadi seorang wirausaha sukses. Amiin..

Tinggalkan komentar

Filed under antara mimpi dan harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s